Pertama mendengar kata “live in” saya langsung berpikir hidup dalam desa yang membosankan dan tidak enak. Tapi setelah saya sampai di sana dan menjalaninya, tidak seperti apa yang saya bayangkan.Live in disana sangat menyenangkan dan sangat mengesankan. Walaupun rumah yang saya tinggali tidak sebagus dengan teman saya yang lain tapi induk semang saya sangat baik. Orang-orang pun sangat ramah. Walaupun tidak kenal satu dengan yang lain sebelumnya namun masyarakat di sana mau menyapa.
Kegiatan yang paling menyenangkan ketika saya ikut pergi ke gua.Saya dan teman-teman pergi ke gua bersama Bapak Trisnowadoyo. Bapak Trisno sangat baik. Ia membiarkan siapa saja ikut pergi bersamanya dengan mobil pick up yang dimilikinya. Saya dan teman-teman diajak pergi ke gua oleh Bapak Trisno. Ketika saya dan teman-teman ingin masuk ke gua, ternyata tak bisa kalau tak ada juru kuncinya. Saya dan teman-teman menggu juru kuncinya agak lama.Sambil menggu saya dan teman-teman bercanda-canda.
Ketika juru kunci gua tersebut sudah datang, saya dan teman-teman merasa senang dan tidak sabar untuk segera masuk ke dalam gua. Saat saya dan teman-teman masuk ke gua perasaan saya sangat senang karena dapat melihat gua yang sangat indah. Gua itu bernama Gua Kiskendo. Gua itu masih benar-benar seperti aslinya tanpa ada yang merubah-rubah. Ga itu sudah dipasangi lampu. Relief gua itu masih sangat bagus. Yang membuat saya tabjuk ketika saya melihat masih ada air yang menetes dari atas.
Juru kunci nya menjelaskan tentang gua tersebut. Di gua sudan banyak orang-orang yang bertapa. Yang anehnya lagi kalau kita sudah masuk ke gua itu kia harus mencuci muka dengan air yang ada di batu paling belakang.
Saya merasa senang bisa pergi ke gua itu. Bukan hanya senang ke gua nya saja, tetapi saya juga senang karena bisa bersama teman-teman saya menaiki mobil pick up sambil “seru-seruan” bareng. Karena itu jarang bisa dilakukan di Jakarta bahkan tidak akan bisa.
Hal yang paling mengesankan ketika saya ingin pamit pulang ke Jakarta. Saya pamit pada Bapak Adisunaryo. Bapak adi dan istrinya sangat baik. Dia menyiapkan oleh-oleh satu kadus untuk saya. Saya senang kepada bapak dan ibu yang saya tempati karena baru beberapa hari saja saya di sana saya dan mereka sudah sangat dekat. Ketika saya mau pergi ke gereja, saya pamit. Ibu asuh saya langsung nangis karena sedih. Tak lama kemudian Bapak pun ikut menangis. Karena terharu dengan orang tua asuh saya, sayapun ikut menangis karena harus berpisah dengan keluarga sementara yang disana.
Pengalaman itu sangat mengesankan karena rasa kekeluargaan yang jarang ditemui dapat saya temui dengan mudah di sana. Tulah pengalaman yang paling menyenangkan dan mengesankan ketika saya live in….
Theresia Juanita
Agustus 2008


0 Tanggapan ke “pengalaman Live in di jogja”